PERANAN BAHASA JAWA DALAM
PENGEMBANGAN BAHASA INDONESIA
Bahasa
Indonesia adalah bahasa persatuan yang pada awalnya merupakan bahasa yang
berasal dari bahasa melayu ,khususnya bahasa melayu Riau.Bahasa Indonesia dalam
perkembangannya menerima pengaruh dari bahasa lain terutama dari bahasa asing
dan bahasa daerah .Pengaruh ini demikian besarnya sehingga di dalam bahasa
Indonesia timbul bebagai kata serapan yang sanagat bermanfaat bagi perkembangan
bahasa Indonesia kedepannya . Dalam perkembangannya bahasa Jawa ,mempunyai
pengaruh yang sangat besar karena sebagian besar penduduk di Indonesia
menggunakan bahasa Jawa , bahasa jawa adalah bahasa yang sangat berperan dalam
pengembangan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional.Maka dari itu dalam
makalah ini kami mencoba memberikan sedikit ulasan mengenai peran bahasa jawa
dalam pengembangan Bahasa Indonesia.
A. Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia
Dikatakan
sebagai pertentangan juga bisa, tapi dikatakan sebagai persatuan juga bisa. Hal
ini dikarenakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia hidup dalam satu wadah dan
berkembangnya pun dalam satu wadah, yaitu Bangsa persatuan Dikatakan
pertentangan, karena ada keinginan agar bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa
pemersatu setiap suku, ras, dan kebudayaan di Indonesia. Kesamarataan
penggunaan bahasa Indonesia di hampir semua lini kehidupan warganya bisa
menjadi bertentangan dengan bahasa daerah Jawa (bahasa ibu) yang mereka gunakan
sebagai bahasa sehari-hari.
Bahasa nasional (Indonesia ) sebagai
bahasa kedua yang menghendaki agar semua lapisan masyarakat menggunakannya,
bisa berakibat bahasa daerah (Jawa )sebagai bahasa pertama sedikit demi sedikti
terkikis. Apabila hal ini tetap dipaksakan, maka bahasa daerah yang kurang kuat
alias sedikit penggunanya bisa menghilang bahkan tidak dikenal lagi di masa
yang akan datang. Bisa-bisa terbentuk yang dinamakan pola substractive
bilingual dalam masyarakat Indonesia, yakni penguasaan bahasa kedua (bahasa
Indonesia) lambat laun menggantikan bahasa pertama (bahasa daerah) Hal ini
tentunya sangat disayangkan sekali, bersamaan dengan hilangnya bahasa-bahasa
daerah, kearifan lokal atau kearifan tradisional yang tersimpan dalam tradisi
lisan juga tidak dapat diselamatkan.
Hal itu apabila dilihat dari sisi
pertentangan, berbeda apabila dilihat dari sisi persatuan, maka antara bahasa
daerah dan bahasa nasional bisa hidup berdampingan dengan harmonis. Di samping
di sekolah-sekolah diajarkan bahasa Indonesia, juga tetap diajarkan bahasa asli
mereka (bahasa daerah). Apabila hal demikian yang terjadi, maka tidak akan
terjadi saling penghilangan satu sama lain. Bahasa nasional tidak menghapus
bahasa daerah, begitu juga sebaliknya.
Hal demikian sudah ada indikasi dari
pemerintah, yaitu dengan dikeluarkannya garis kebijakan yang telah disusun
dalam rangka pembinaan dan pengembangan bahasa daerah, yaitu seperti berikut
ini:
“Bahasa-bahasa
daerah yang masih dipakai sebagai alat perhubungan yang hidup dan dibina oleh
masyarakat pemaikainya, dihargai dan dipelihara oleh negara oleh karena
bahasa-bahasa itu adalah bagian daripada kebudayaan yang hidup”.
Kebijakan
demikian tentunya memberi angin segar bahwasanya pemerintah benar-benar memperhatikan
bahasa-bahasa daerah yang ada di tanah air ini. Bahasa-bahasa daerah yang ada
merupakan kekayaan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang tidak
dimiliki oleh bangsa lain. Perlu kiranya kita apresiasi kebijakan tersebut.
Namun demikian, kita tidak hanya memberi aplaus saja terhadap kebijakan
tersebut, tetapi juga kita wajib menjaga kelestarian bahasa daerah yang ada di
tanah air ini.
B. Peran Bahasa Jawa dalam Perkembangan
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia diangkat dari bahasa
Melayu, tepatnya melayu rendah atau Melayu pasar pada daerah Riau (sebagai
bahasa pengantar).hal ini dikarenakan bahasa melayu yang sekarang menjadi
bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa pergaulan atau bahasa pemersatu (lingua
franca). Dari tahun 1928 Sumpah pemuda bahasa yang dipakai memang sudah
bahasa Indonesia selain itu banyak sastrawan-sastrawan terkenal yang berkarya
dengan bahasa Indonesia. Setelah Bahasa Indonesia diangkat sebagaai bahasa
Nasional dan bahasa negara maka bahasa daerah seperti bahasa Jawa mampunyai
tugas berupa:
a. Lambang
kebanggaan daerah,
b. Lambang
identitas daerah,
c. Sarana
perhubungan dalam keluarga,
d. Sarana
pengembangan dan penghubunng kebudayaan daerah.
Bahasa daerah seperti bahasa Jawa tidak
bisa begitu saja hilang dari Indonesia, karena masyarakat Jawa yang begitu
banyak maka pengguna bahasa Jawapun tak sedikit, bahkan kebanyakan masyarakat
daerah Jawa lebih menguasai bahasa Jawa dari pada bahasa Indonesia.
Faktor utama yang mempengaruhi hal
tersebut adalah fenomena sosiolinguistik yang sulit terlepas dari masyarakat
daerah. Fenomena bahasa jawa tersebut termasuk teori transferensi dan
internfernsi, transferensi yaitu pengambilalihan bentuk, makna, dan aturan
antara bahasa satu dengan bahasa yang lain. Sedangkan interferensi merupakan pengaruh
bahasa ibu dalam penggunaan bahasa kedua. Contohnya seorang anak dilahirkan di
Banyumas dan dari kecil anak tersebut berinteraksi dangan bahsa Jawa maka saat
anak tersebut belajar bahasa Indonesia bahasa yang dipelajari akan
terkontaminasi dengan bahasa daerahnya tersebut. Pemakaian bahasa yang sering
berbaur dengan bahasa Jawa tersebut banyak dijumpai pada Koran atau surat
kabar.
Peran bahasa Jawa sendiri sebenarnya
sebagai pemerkaya Bahaa Indonsia sendiri, maka dari itu banyak kosakata dari
bahsa Jawa diserap ke dalam kosakata Bahasa Indonesia. dan sering dipakai dalam
percakapan Bahasa Indonesia. Seperti ambrug, rewang, lho, kok, dan lain
sebagainya. Pengamatan selama ini menunjukkan bahwa Bahasa Jawa
memberikan sumbangan yang besar dalam perkembangan kosakata Bahasa Indonesia.
Bahasa merupakan jatidiri bangsa, dan
Indonesia merupakan Negara yang beraneka ragam akan budaya dan dalam
pengembangan kosakata bahasa Indonesia masih perlu diperhatikan. Salah satu
upaya mempertahankan kebinekaan (keberagaman), yaitu dengan penerimaan kosakata
bahasa Indonesia. Terutama berbagai konsep dari bahasa daerah seperti bahasa
Jawa yang tidakmemiliki padanan dalam Bahasa Indonesia, karena Bahasa jawa
lebil dikenal oleh masyarakat Indonesia. Dengan demikian masyarakat akan lebih
mudah mengerti dengan kosakata tersebut.
Hal diatas merupakan bukti bahwa bahasa
daerah atau bahasa Jawa mempunyai andil yang bsar dalam perkembangan Bahasa
Indonesia. Bahkan bahasa Jawa mempunyai landasan kebudayaan yang sangat
menarik, dan bahasa Jawa tentu hanya ada Di Indonesia, itu akan menjadi daya
tarik tersendiri unuk memikat warga asing agar mau mempelajari tentang Bahasa
Indonesia, hal ini akan mendukung cita-cita Indonesia yaitu membuat Bahasa
Indonesia menjadi Bahasa Dunia. Disamping sebagai penunjang Bahasa Nasional,
Bahasa Daerah atau Bahasa Jawa juga sebagai pengembangan bahasa Nasional , juga
sebagai pengantar pembantu pada tingkat SD pada daerah tertentu.
Pengaruh
penggunaan bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia
Bahasa merupakan unsur yang sangat
vital dalam berkomunikasi, yakni sebagai alat komunikasi yang paling utama.
Bahasa mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam
melaksanakan hubungan social dengan sesamanya, manusia sudah menggunakan bahasa
sebagai alat komunikasi sejak berabad – abad silam.
Seiring dengan perkembangan zaman ke
zaman khususnya di Negara Indonesia semakin terlihat pengaruh yang diberikan
oleh bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia dalam penggunaan tata bahasanya.
Penggunaan bahasa gaul oleh masyarakat luas menimbulkan dampak negatif terhadap
perkembangan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa pada saat sekarang dan
masa yang akan dating. Dewasa ini, masyarakat sudah banyak yang memakai bahasa
gaul dan parahnya lagi generasi muda Indonesia juga tidak terlepas dari
pemakaian bahasa gaul ini. Bahkan generasi muda inilah yang banyak memakai
bahasa gaul daripada pemakaian bahasa Indonesia. Untuk menghindari pemakaian
bahasa gaul yang sangat luas di masyrakat, seharusnya kita menanamkan kecintaan
dalam diri generasi bangsa terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
Dalam pergaulan internasional, bahasa Indonesia mewujudkan identitas bangsa
Indonesia.
Sehubungan dengan semakin maraknya
penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu
adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa
Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar
dalam dunia pendidikan. Dewasa ini, bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi
dari bahasa rahasia menjadi bahasa gaul. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul
merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu
daerah atau komunitas tertentu.
Salah satu dampak dari pembangunan
dan perkembangan jaman adalah modernisasi, di mana segala hal yang ada di
lingkungan kita harus selalu ter up-to date. Dampak dari modernisasi yang
paling terlihat adalah gaya hidup, seperti cara berpakaian, cara belajar,
aplikasi teknologi yang makin maju maupun cara bertutur kata (pemakaian
bahasa). Dilihat dari cara bertutur kata atau dalam pemakaian bahasa, dewasa
ini munculnya “Bahasa Gaul” sangat fenomenal terutama terlihat pada kalangan
masyarakat (remaja) khususnya yang ingin diakui sebagai remaja jaman sekarang
yang gaul, funky, dan keren. Kemunculan bahasa gaul ini dapat menggeser
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dalam sebuah milis (2006) disebutkan
bahwa bahasa gaul memiliki sejarah sebelum penggunaannya populer seperti
sekarang ini. Berikut ini merupakan sejarah bahasa gaul tersebut, antara lain
yaitu :
1. Nih
Yee
Ucapan
ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. pertama kali yang
mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama Diran. Selanjutnya
dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular hingga saat ini.
2. Memble
dan Kece
Dalam
milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece merupakan kata-kata
ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986, muncul sebuah film berjudul Memble
tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja ditemani oleh Dorce Gamalama.
3. Boo
Kata
ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata Boo…adalah grup
GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan. Kemudian kata-kata
dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan menjadi popular di lingkungan pergaulan
kalangan artis. Salah seorang artis bernama Titi DJ kemudian disebut sebagai
artis yang benar-benar mempopulerkan kata ini.
4. Nek
Setelah
kata Boo… populer, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek… yang dipopulerkan
anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek… pertama kali di ucapkan oleh Budi
Hartadi seorang remaja di kawasan kebayoran yang tinggal bersama neneknya. Oleh
karena itu, lelaki yang latah tersebut sering mengucapkan kata Nek…
5. Jayus
Di
akhir dekade 90-an dan di awal abad 21, ucapan jayus sangat popular. Kata ini
dapat berarti sebagai ‘lawakan yang tidak lucu’, atau ‘tingkah laku yang
disengaca untuk menarik perhatian, tetapi justru membosankan’. Kelompomk yang
pertama kali mengucapkan kata ini adalah kelompok anak SMU yang bergaul di
kitaran Kemang.
Asal
mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh teman-temannya
Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan
Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal yang aneh-aneh dengan maksud
mencari perhatian, tetapi justru menjadikan bosan teman-temannya. Salah satu
temannya bernama Sonny Hassan atau Oni Acan sering memberi komentar jayus
kepada Herman. Ucapan Oni Acan inilah yang kemudian diikuti teman-temannya di
daerah Sajam, Kemang lalu kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak SMU
sekitar.
6. Jaim
Ucapan
jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito, seorang pejabat di
sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk menjaga
tingkah laku atau menjaga image.
7. GituLoh…(GL)
Kata
GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di kawasan
Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak bernama Ronny Baskara seorang pekerja
event organizer. Sedangkan Ronny punya teman kantor bernama Siska Utami. Suatu
hari Siska bertandang ke rumah Ronny. Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya
dimana kakaknya, lantas Gina ngejawab di kamar, Gitu Loh. Esoknya si Siska di kantor
ikut-ikutan latah dia ngucapin kata Gitu Loh…di tiap akhir pembicaraan.
Bahasa gaul
adalah dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu
atau di daerah tertentu untuk pergaulan. Bahasa gaul identik dengan bahasa
percakapan (lisan). Bahasa gaul muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan
teknologi komunikasi dan situs-situs jejaring sosial.
Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya.
Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar