Rabu, 18 Maret 2015

Pengaruh Bahasa dalam Pengembangan Bahasa Indonesia



PERANAN BAHASA JAWA DALAM PENGEMBANGAN BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang pada awalnya merupakan bahasa yang berasal dari bahasa melayu ,khususnya bahasa melayu Riau.Bahasa Indonesia dalam perkembangannya menerima pengaruh dari bahasa lain terutama dari bahasa asing dan bahasa daerah .Pengaruh ini demikian besarnya sehingga di dalam bahasa Indonesia timbul bebagai kata serapan yang sanagat bermanfaat bagi perkembangan bahasa Indonesia kedepannya . Dalam perkembangannya bahasa Jawa ,mempunyai pengaruh yang sangat besar karena sebagian besar penduduk di Indonesia menggunakan bahasa Jawa , bahasa jawa adalah bahasa yang sangat berperan dalam pengembangan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional.Maka dari itu dalam makalah ini kami mencoba memberikan sedikit ulasan mengenai peran bahasa jawa dalam pengembangan Bahasa Indonesia.
A. Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia
Dikatakan sebagai pertentangan juga bisa, tapi dikatakan sebagai persatuan juga bisa. Hal ini dikarenakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia hidup dalam satu wadah dan berkembangnya pun dalam satu wadah, yaitu Bangsa persatuan Dikatakan pertentangan, karena ada keinginan agar bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa pemersatu setiap suku, ras, dan kebudayaan di Indonesia. Kesamarataan penggunaan bahasa Indonesia di hampir semua lini kehidupan warganya bisa menjadi bertentangan dengan bahasa daerah Jawa (bahasa ibu) yang mereka gunakan sebagai bahasa sehari-hari.
Bahasa nasional (Indonesia ) sebagai bahasa kedua yang menghendaki agar semua lapisan masyarakat menggunakannya, bisa berakibat bahasa daerah (Jawa )sebagai bahasa pertama sedikit demi sedikti terkikis. Apabila hal ini tetap dipaksakan, maka bahasa daerah yang kurang kuat alias sedikit penggunanya bisa menghilang bahkan tidak dikenal lagi di masa yang akan datang. Bisa-bisa terbentuk yang dinamakan pola substractive bilingual dalam masyarakat Indonesia, yakni penguasaan bahasa kedua (bahasa Indonesia) lambat laun menggantikan bahasa pertama (bahasa daerah) Hal ini tentunya sangat disayangkan sekali, bersamaan dengan hilangnya bahasa-bahasa daerah, kearifan lokal atau kearifan tradisional yang tersimpan dalam tradisi lisan juga tidak dapat diselamatkan.
Hal itu apabila dilihat dari sisi pertentangan, berbeda apabila dilihat dari sisi persatuan, maka antara bahasa daerah dan bahasa nasional bisa hidup berdampingan dengan harmonis. Di samping di sekolah-sekolah diajarkan bahasa Indonesia, juga tetap diajarkan bahasa asli mereka (bahasa daerah). Apabila hal demikian yang terjadi, maka tidak akan terjadi saling penghilangan satu sama lain. Bahasa nasional tidak menghapus bahasa daerah, begitu juga sebaliknya.
Hal demikian sudah ada indikasi dari pemerintah, yaitu dengan dikeluarkannya garis kebijakan yang telah disusun dalam rangka pembinaan dan pengembangan bahasa daerah, yaitu seperti berikut ini:
“Bahasa-bahasa daerah yang masih dipakai sebagai alat perhubungan yang hidup dan dibina oleh masyarakat pemaikainya, dihargai dan dipelihara oleh negara oleh karena bahasa-bahasa itu adalah bagian daripada kebudayaan yang hidup”.
Kebijakan demikian tentunya memberi angin segar bahwasanya pemerintah benar-benar memperhatikan bahasa-bahasa daerah yang ada di tanah air ini. Bahasa-bahasa daerah yang ada merupakan kekayaan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Perlu kiranya kita apresiasi kebijakan tersebut. Namun demikian, kita tidak hanya memberi aplaus saja terhadap kebijakan tersebut, tetapi juga kita wajib menjaga kelestarian bahasa daerah yang ada di tanah air ini.
B. Peran Bahasa Jawa dalam Perkembangan Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia diangkat dari bahasa Melayu, tepatnya melayu rendah atau Melayu pasar pada daerah Riau (sebagai bahasa pengantar).hal ini dikarenakan bahasa melayu yang sekarang menjadi bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa pergaulan atau bahasa pemersatu (lingua franca). Dari tahun 1928 Sumpah pemuda bahasa yang dipakai memang sudah bahasa Indonesia selain itu banyak sastrawan-sastrawan terkenal yang berkarya dengan bahasa Indonesia. Setelah Bahasa Indonesia diangkat sebagaai bahasa Nasional dan bahasa negara maka bahasa daerah seperti bahasa Jawa mampunyai tugas berupa:
a. Lambang kebanggaan daerah,
b. Lambang identitas daerah,
c. Sarana perhubungan dalam keluarga,
d. Sarana pengembangan dan penghubunng kebudayaan daerah.
Bahasa daerah seperti bahasa Jawa tidak bisa begitu saja hilang dari Indonesia, karena masyarakat Jawa yang begitu banyak maka pengguna bahasa Jawapun tak sedikit, bahkan kebanyakan masyarakat daerah Jawa lebih menguasai bahasa Jawa dari pada bahasa Indonesia.
Faktor utama yang mempengaruhi hal tersebut adalah fenomena sosiolinguistik yang sulit terlepas dari masyarakat daerah. Fenomena bahasa jawa tersebut termasuk teori transferensi dan internfernsi, transferensi yaitu pengambilalihan bentuk, makna, dan aturan antara bahasa satu dengan bahasa yang lain. Sedangkan interferensi merupakan pengaruh bahasa ibu dalam penggunaan bahasa kedua. Contohnya seorang anak dilahirkan di Banyumas dan dari kecil anak tersebut berinteraksi dangan bahsa Jawa maka saat anak tersebut belajar bahasa Indonesia bahasa yang dipelajari akan terkontaminasi dengan bahasa daerahnya tersebut. Pemakaian bahasa yang sering berbaur dengan bahasa Jawa tersebut banyak dijumpai pada Koran atau surat kabar.
Peran bahasa Jawa sendiri sebenarnya sebagai pemerkaya Bahaa Indonsia sendiri, maka dari itu banyak kosakata dari bahsa Jawa diserap ke dalam kosakata Bahasa Indonesia. dan sering dipakai dalam percakapan Bahasa Indonesia. Seperti ambrug, rewang, lho, kok, dan lain sebagainya. Pengamatan selama ini menunjukkan bahwa Bahasa Jawa memberikan sumbangan yang besar dalam perkembangan kosakata Bahasa Indonesia.
Bahasa merupakan jatidiri bangsa, dan Indonesia merupakan Negara yang beraneka ragam akan budaya dan dalam pengembangan kosakata bahasa Indonesia masih perlu diperhatikan. Salah satu upaya mempertahankan kebinekaan (keberagaman), yaitu dengan penerimaan kosakata bahasa Indonesia. Terutama berbagai konsep dari bahasa daerah seperti bahasa Jawa yang tidakmemiliki padanan dalam Bahasa Indonesia, karena Bahasa jawa lebil dikenal oleh masyarakat Indonesia. Dengan demikian masyarakat akan lebih mudah mengerti dengan kosakata tersebut.
Hal diatas merupakan bukti bahwa bahasa daerah atau bahasa Jawa mempunyai andil yang bsar dalam perkembangan Bahasa Indonesia. Bahkan bahasa Jawa mempunyai landasan kebudayaan yang sangat menarik, dan bahasa Jawa tentu hanya ada Di Indonesia, itu akan menjadi daya tarik tersendiri unuk memikat warga asing agar mau mempelajari tentang Bahasa Indonesia, hal ini akan mendukung cita-cita Indonesia yaitu membuat Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Dunia. Disamping sebagai penunjang Bahasa Nasional, Bahasa Daerah atau Bahasa Jawa juga sebagai pengembangan bahasa Nasional , juga sebagai pengantar pembantu pada tingkat SD pada daerah tertentu.
Pengaruh penggunaan bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia

Bahasa merupakan unsur yang sangat vital dalam berkomunikasi, yakni sebagai alat komunikasi yang paling utama. Bahasa mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam melaksanakan hubungan social dengan sesamanya, manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sejak berabad – abad silam.
Seiring dengan perkembangan zaman ke zaman khususnya di Negara Indonesia semakin terlihat pengaruh yang diberikan oleh bahasa gaul terhadap bahasa Indonesia dalam penggunaan tata bahasanya. Penggunaan bahasa gaul oleh masyarakat luas menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa pada saat sekarang dan masa yang akan dating. Dewasa ini, masyarakat sudah banyak yang memakai bahasa gaul dan parahnya lagi generasi muda Indonesia juga tidak terlepas dari pemakaian bahasa gaul ini. Bahkan generasi muda inilah yang banyak memakai bahasa gaul daripada pemakaian bahasa Indonesia. Untuk menghindari pemakaian bahasa gaul yang sangat luas di masyrakat, seharusnya kita menanamkan kecintaan dalam diri generasi bangsa terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Dalam pergaulan internasional, bahasa Indonesia mewujudkan identitas bangsa Indonesia.
Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Dewasa ini, bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa gaul. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu.
Salah satu dampak dari pembangunan dan perkembangan jaman adalah modernisasi, di mana segala hal yang ada di lingkungan kita harus selalu ter up-to date. Dampak dari modernisasi yang paling terlihat adalah gaya hidup, seperti cara berpakaian, cara belajar, aplikasi teknologi yang makin maju maupun cara bertutur kata (pemakaian bahasa). Dilihat dari cara bertutur kata atau dalam pemakaian bahasa, dewasa ini munculnya “Bahasa Gaul” sangat fenomenal terutama terlihat pada kalangan masyarakat (remaja) khususnya yang ingin diakui sebagai remaja jaman sekarang yang gaul, funky, dan keren. Kemunculan bahasa gaul ini dapat menggeser penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dalam sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki sejarah sebelum penggunaannya populer seperti sekarang ini. Berikut ini merupakan sejarah bahasa gaul tersebut, antara lain yaitu :
1.   Nih Yee
      Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. pertama kali yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama Diran. Selanjutnya dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular hingga saat ini.
2.   Memble dan Kece
      Dalam milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece merupakan kata-kata ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986, muncul sebuah film berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja ditemani oleh Dorce Gamalama.
3.   Boo
      Kata ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata Boo…adalah grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan. Kemudian kata-kata dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan menjadi popular di lingkungan pergaulan kalangan artis. Salah seorang artis bernama Titi DJ kemudian disebut sebagai artis yang benar-benar mempopulerkan kata ini.
4.   Nek
      Setelah kata Boo… populer, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek… yang dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek… pertama kali di ucapkan oleh Budi Hartadi seorang remaja di kawasan kebayoran yang tinggal bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang latah tersebut sering mengucapkan kata Nek…
5.   Jayus
      Di akhir dekade 90-an dan di awal abad 21, ucapan jayus sangat popular. Kata ini dapat berarti sebagai ‘lawakan yang tidak lucu’, atau ‘tingkah laku yang disengaca untuk menarik perhatian, tetapi justru membosankan’. Kelompomk yang pertama kali mengucapkan kata ini adalah kelompok anak SMU yang bergaul di kitaran Kemang.
      Asal mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh teman-temannya Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal yang aneh-aneh dengan maksud mencari perhatian, tetapi justru menjadikan bosan teman-temannya. Salah satu temannya bernama Sonny Hassan atau Oni Acan sering memberi komentar jayus kepada Herman. Ucapan Oni Acan inilah yang kemudian diikuti teman-temannya di daerah Sajam, Kemang lalu kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak SMU sekitar.
6.   Jaim
      Ucapan jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito, seorang pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk menjaga tingkah laku atau menjaga image.
7.   GituLoh…(GL)
      Kata GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di kawasan Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak bernama Ronny Baskara seorang pekerja event organizer. Sedangkan Ronny punya teman kantor bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah Ronny. Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas Gina ngejawab di kamar, Gitu Loh. Esoknya si Siska di kantor ikut-ikutan latah dia ngucapin kata Gitu Loh…di tiap akhir pembicaraan.
      Bahasa gaul adalah dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk pergaulan. Bahasa gaul identik dengan bahasa percakapan (lisan). Bahasa gaul muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan teknologi komunikasi dan situs-situs jejaring sosial.
Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar