Rabu, 18 Maret 2015

Jelaskan tentang Teori-Teori Penalaran





TEORI DAN TEORI ARSITEKTUR Teori dan Ilmu Pengetahuan
1.  Definisi Teori dalam Ilmu Pengetahuan
„Teori‟ secara umum memiliki banyak arti. Beberapa pengertian dan fungsi teori antara lain adalah merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan (misal, dalam ilmu Fisika: Teori Relativitas Einstein dan dalam ilmu Ekonomi: Teori Ekonomi Makri dan Mikro).
Seperangkat proporsi yang terintegrasi secara sintaksis (yaitu: mengikuti atauran tertentu yang dapat dihubungkan secara logis satu dengan lainnya dengan data dasar yang dapat diamati) dan berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.
Suatu sistem tentang ide/gagasan atau pernyataan (berupa skema mental) yang diyakini dapat menerangkan dan menjelaskan suatu fenomena/gejala atau sekelompok gejala, baik yang telah diuji maupun tanpa uji (idealnya menggunakan pengujian bermetoda ilmiah).
Untuk  sebagian  ahli  menyatakan bahwa  pada  hakekatnya teori-teori bukanlah pernyataan-pernyataan yang absolut benar melainkan kebenaran yang bermanfaat
dalam  kurun  waktu  tertentu.  Teori-teori  yang  berupa  spekulasi-spekulasi yang
sampai saat ini tidak ditolak kebenarannya dan memiliki manfaat bagi kehidupan kita, kita anggap sebagai pengetahuan yang sahih, kalaupun nantinya terbukti tidak benar, bagi kita tidak terlalu penting selama ia mempunyai kegunaan. Oleh karena itu ilmu pengetahuan sebetulnya tidak dilandasi oleh teori melainkan paradigma (baca kembali: Apakah itu Ilmu? Chalmer, 1977).

Pembenaran Teori Dalam Mendukung Ilmu Pengetahuan
Agar dapat diterima di kalangan ilmuwan secara luas, suatu teori harus ditunjang dengan pembenaran yang jelas dan diuraikan secara rinci. Dengan kata lain teori merupakan penyataan yang terbukti kebenarannya. Pembenaran pernyataan tersebut dapat dihasilkan melalui proses yang berbeda, yaitu induksi-deduksi dan falsifikasi.



Induksi-Deduksi
Pembenaran  melalui  Induksi-Deduksi  menyatakan  teori  dihasilkan  dari  suatu proses yang diawali dari suatu permasalahan. Gejala yang mewakili permasalahan itu mula-mula diamati, hasilnya dinyatakan sebagai sebuah kesimpulan umum. (induksi). Dari situ dilakukan penalaran untuk menghasilkan sebuah kesimpulan akhir.  Penalaran  tersebut  dinamakan  deduksi.  Kesimpulan  akhir  itulah  yang kemudian disebut dengan teori. Dari berbagai teori yang dihasilkan melalui proses ini terbentuklah ilmu pengtahuan. Semakin banyak teori yang dihasilkan, semakin maju  ilmu  pengetahuannya. Begitulah pandangan yang  dianut  sebagain besar ilmuwan sampai sekarang (pandangan ini disebut dengan na_ve inductivism). Induksi-Deduksi  memiliki   kelemahan,  karena   untuk   melakukan  pengamatan diperlukan teori. Teori tersebut tentu saja tidak dihasilkan dari sebuah pengamatan sebab akan menghasilkan sebuah lingkaran persoalan yang tidak ada awal dan akhirnya.


Falsifikasi
Belajar dari kelemahan induksi-deduksi. Pengamatan memerlukan „teori awal‟ yang diperoleh melalui titik tolak lain, yaitu perkiraan. Tentu saja sifatnya spekulatif. Meskipun  demikian  spekulasi  ini  tidak  sembarangan  karena  dilandaskan  atas logika. Beberapa diantara teori tersebut dikemudian hari terbukti melalui pengamatan, walaupun  sebagian  besar  lainnya  tidak.  Namun,  kita  tidak  perlu menunggu sampai sebuah teori dibuktikan dengan pengamatan sebab ketika teori itu dikemukakan, cara pengamatannya belum ditemukan. Dalam hal ini teori tersebut dapat dibuktikan kebenarannya dengan penalaran terbalik. Pembuktian ini disebut Falsifikasi. Berdasarkan itu hanya teori-teori yang tidak dapat difalsifikasi yang dapat dijadikan landasan teoritis untuk membentuk sebuah pengetahuan. Akan tetapi, teori tersebutpun dapat dinyatakan keliru apabila ternyata dikemudian hari tidak cocok dengan pengamatan.
Dari proses diatas terkandung pengertian bahwa pengamatan tidak lagi menjadi faktor pendukung sebuah teori melainkan sebaliknya, yaitu untuk mengenyahkan teori tadi. Dari sini terlihat bahwa teori itu tidak mengandung kebenaran abadi melainkan sementara saja. Sebab itu ilmu pengetahuanpun tidak terus menerus berkembang dan bergerak maju melainkan ada kalanya mandek dan mundur, yaitu ketika teori-teori yang melandasi akhirnya dapat difalsifikasikan atau dibuktikan tidak  benar  setelah  dilakukan  pengamatan. Dilain  pihak,  pandangan ini  justru mengindikasikan bahwa besarnya kemungkinan sebuah pernyataan untuk menjadi teori tidak ditentukan oleh potensi kebenarannya melainkan kesalahannya. Dengan perkataan lain, semakin berani teori tersebut berspekulasi, semakin besar kemungkinan untuk tidak dapat difalsifikasikan.
Paradigma
Teori didalam ilmu pengetahuan masih mutlak keberadaannya. Padahal kebenaran sebuah teori dalam status apapun ditentukan oleh pemakainya, yaitu masyarakat ilmuwan (community of interest). Mereka menyepakati sejumlah teori sebagai landasan ilmu pengetahuan, juga menyepakati pengenyahannya. Teori-teori yang disepakati itu tidak selalu saling berkaitan satu sama lain melainkan bisa juga tidak. Karena itu yang melandasi ilmu pengetahuan sebetulnya bukan teori melainkan paradigma.
Didalam sebuah paradigma terdapat (a) teori yang belum terbukti, (b) teori yang sudah terbukti tidak dapat difalsifikasikan namun belum terbukti dengan pengamatan (c) teori yang sudah terbukti dapat difalsifikasikan dan terbukti dengan pengamatan.
Konsep paradigma ini dengan demikian memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuanpun pada dasarnya merupakan sebuah spekulasi. Ilmu pengetahuan tidak dapat mengungkapkan kebenaran sejati yang abadi, sehingga dalam perkembangan ilmu  pengetahuan  dimungkinkan  terwujudnya  suatu  siklus  ilmu pengetahuan: dimulai dari  Pra  pengetahunan; periode anomali; periode netral; periode anomali; periode normal, dst.

Teori dalam Praktek Keilmuan
Dalam prakteknya disamping pandangan-pandangan diatas berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, berkembang dua aliran. Aliran pertama mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu identik dengan praktek para ilmuwan, sedangkan aliran ke dua mengatakan bahwa di dalam ilmu pengetahuan berlaku prinsip „everything goes‟.

Ilmu pengetahuan sebagai Praktek Para Ilmuwan
Para  ilmuwan  adalah  mereka  yang  melakukan  kegiatannya  dalam  bentukl
„metodologi program penelitian ilmiah‟. Di  sini  ilmuwan tidak  bertitik  tolak  dari sebuah teori ketika melakukan kegiatannya melainkan keyakinan (hard core). Di dalam keyakinan itu terdapat sejumlah teori, hipothesis dan dugaan, namun yang diterapkan oleh ilmuwan tersebut secara spekulatif dalam kegiatanya. Karena itu kegiatan seorang ilmuwan sangat rawan terhadap falsifikasi. Tiap ilmuwan menyadari hal itu sehingga mereka melakukan tindakan berjaga-jaga (negatif heuristic).
Pertama, mereka memasang „lingkaran pengaman‟ agar kegiatan tidak terhambat. Lingkaran ini terdiri dari sejumlah persyaratan atau kondisi dasar yang paling sulit dipenuhi siapapun yang ingin melakukan falsifikasi atas kegiatan ilmuwan tadi. Kedua, mereka menyempurnakan substansi keyakinanya dengan teori dan hasil pengamatan mutakhir.
Selain itu, ilmuwan juga mengendalikan kegiatan agar tidak mandek (positif heuristic). Caranya, mereka selalu berinteraksi dengan rekan sejawat, baik dengan korespondensi, melalui diskusi, seminar, atau dengan perantaraan media cetak khususnya jurnal kegiatan ilmiah. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah ada kegiatan sejenis dari rekan sejawat yang lebih progressive dan berpotensi menghasilkan temuan besar. Bila ada, ilmuwan tadi akan segera mengkoreksi program penelitian ilmiahnya atau menghentikannya sama sekali. Setelah itu dia akan memutuskan untuk memulai lagi dengan program baru, atau justru memulai lagi dengan memilih jenis kegiatan ilmiah baru.

Ilmu Pengetahuan adalah ‘Everything Goes’
Di dalam aliran ini tidak ada lagi deskripsi-deskripsi yang biasanya ditemukan dalam ilmu pengetahuan, seperti: hipothesis, teorema, teori, analisis, induksi, deduksi dan seterusnya. Segala macam dapat dipakai untuk menghasilkan ilmu ilmu pengetahuan sebab pada dasarnya tidak ada bedanya antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Pandangan ini memang sangat ekstrim namun mendasar sehingga hanya menjadi bahan perdebatan dikalangan filsuf ilmu pengetahuan.



Rumpun ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan dalam sudut pandang rumpunnya bukan hanya satu melainkan dapat dibedakan menjadi tiga. Ilmu Pengetahuan sebagaimana diuraikan diatas dapat dimasukan sebagai ilmu pengetahuan obyektif. Selain itu masih ada ilmu
pengetahuan lain yang disebut “understanding‟. Pada ilmu pengetahuan ini alat utamanya bukan penalaran melainkan penafsiran. Cara kerjanyapun berbeda, bukan „heuristic‟ melainkan „hermeneutic.‟
Pada dasarnya Ilmu Pengetahuan dapat dibedakan menjadi tiga rumpun yaitu:
Ilmu pengetahuan Obyektif. Ilmu pengetahuan dalam rumpun ini memiliki tiga sifat, yaitu: rasional, empiris (dapat dibuktikan) dan memiliki metodologi yang jelas untuk  pembuktiannya. Dalam  kelompok  ini  Ilmu  Pengetahuan  memiliki  tingkat kebenaran yang sangat obyektif sekali atau mutlak, yang masuk dalam rumpun ini misalnya Ilmu Pengetahuan Alam. Matematika dsb.
Understanding  (penafsiran). Ilmu Pengetahuan didasarkan pada pemahaman dengan  media  lewat  penafsiran,  jadi  alat  utamanya  bukan  penalaran.  Cara kerjanya tidak  heuristic tetapi  hermeneutic. Suriasumantri (1988)  menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan yang didapatkan tanpa proses penalaran (rasional dan empiris) tertentu dapat dikategorikan sebagai intuisi. Dalam rumpun ini tingkat kebenaran ilmu pengetahuan menjadi subyektif.



Wacana (diskursus). Titik tolak dari rumpun ini kembali ke definisi teori sebagai sebuah pernyataan yang terbukti kebenarannya. Dari definisi tersebut yang diutamakan adalah  aspek  pernyataan. Pandangan ini  menyatakan bahwa  tiap pernyataan pasti selalu didasarkan pada beberapa hal berikut ini, yaitu: obyek tertentu, diucapkan pada  situasi tertentu, dikemukakan melalui media tertentu; pada masa tertentu. Pada masa berikutnya, ketiga aspek tadi pasti berubah posisi dan lokasinya. Akan tetapi posisi dan lokasi lama sebetulnya tidak hilang begitu saja. Posisi dan lokasi lama tersebut masih ada, namun berada dalam status lain, demikian seterusnya. Diskursus menyiratkan secara menyeluruh pada pola formasi teori yang tidak sistematis atau teratur tetapi memiliki pola. Untuk menerapkan teori pada pemahaman ini, harus selalu dilihat situasi dan kondisinya yaitu kapan pertama kali teori tersebut diucapkan, apa medianya, dan harus diikuti kapan teori tersebut muncul atau dipakai kembali pada kurun waktu dan masanya. Dengan demikian penerapan suatu teori selalu melihat „adanya situasi yang sama‟ dengan saat teori yang dipakai dan akan diterapkan tersebut „pernah dipakai‟. Pola-pola tersebut bersifat diskursif dan memperlihatkan berbagai disiplin ilmu yang terkait pada pernyataan/teori yang bersangkutan pada masanya masing-masing. Kaitan antar  disiplin  didalam  konteks  pernyataaan  dan  waktu  ini  disebut  „wacana‟ (Sukada, 1999) yang membentuk sebuah ilmu pengetahuan tersendiri.

Ilmu Pengetahuan Berdasarkan Penerapannya
Jon Lang (dalam Johnson, 1994) mengajukan dua dasar berpijak bagi beberapa teori. Yang satu berkaitan dengan dunia „sebagaimana adanya‟ (disebut sebagai positive theory) sedangkan yang lain berkaitan dengan dunia „sebagaimana mestinya‟ (disebut sebagai normative theory). Penjabaran terhadap pandangan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.
Teori  Positif  (deskriptif). Teori  positif  berisikan  pernyataan yang  tegas  yang melukiskan, menerangkan kenyataan dan mampu untuk memperluas prediksi terhadap  kenyataan-kenyataan dimasa  mendatang.  Tujuan  teori  positif  adalah untuk memberikan kemungkinan masyarakat ilmuwan dalam memperoleh banyak pernyataan deskriptif dari pernyataan tunggal (Alan Johnson, 1994). Teori positif merupakan pernyataan-pernyataan positif, yaitu pernyataan tegas tentang realita (sebagaimana adnya). Teori positif tidak akan menyiratkan bahwa sebenarnya teori harus sesuai dengan epistemologi (ilmu yang mempelajari tentang asal usul) para positivist  (penganut teori  positif)  yang  berpedoman bahwa  tak  ada  kebenaran sebelum ada tahap pembuktian sesuatu dan pembongkaran kepalsuannya.
Teori Normative. Teori normatif berisikan preskripsi-preskripsi (petunjuk-petunjuk untuk bertindak melalui standart-satndart (norma-norma), manifesto, prinsip-prinsip perancangan dan filosofi-filosofi (Alan Johnson, 1994). Karena teori normatif ini berkaitan dengan „dunia sebagaiman mestinya‟ maka biasanya cenderung perupakan pernyataan sebagai petunjuk merancang. Dalam hal ini Normatif diartikan sebagai norma-norma, aturan-aturan, kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar